Marsmolys menamai album kedua dengan “The Progeny of Holy Moly. Buat saya, album ke-2 mereka itu laiknya sebuah perjalanan. Bukan manifesto. Bukan pula kumpulan lagu yang dipaksa selesai oleh tenggat dan strategi pemasaran.
Konsepnya suka-suka dan kolaborasi. Dan dari sana bisa dimaknai atau disebut ritual pulang. Pulang kepada suara-suara yang pernah mereka dengar saat pertama kali menyalakan ampli dan efek pinjaman, ketika telapak tangan masih kikuk memilih antara menggenggam mimpi atau memukul penghalang.
Psychedelic stoner rock, kata banyak media musik tentang musik mereka. Pun dari rilisan pers yang Marsmolys sebarkan. Saya yakin genre musik hanyalah bentuk lain dari kebebasan setiap musisi. Begitu juga dalam konteks Marsmolys, mereka meminjam gaya banyak band terdahulu lalu mengubahnya menjadi gema yang mengaburkan sakit kepala para pemberontak muda—yang menolak dewasa terlalu cepat.
Dalam album itu, banyak nama ikut bersuara. Teman-teman yang dulu hadir sebagai bayangan di sudut studio sempit, yang membawa sebungkus rokok atau sekadar tawa yang membuyarkan rasa putus asa. Kini, mereka menjadi kolaborator. Bukan tamu. Mereka adalah jejak dari perjalanan yang tidak pernah benar-benar soliter.
Ada yang datang dengan suara sintetis, ada yang meminjamkan lirik-lirik yang ditulis di buku catatan lusuh pada malam yang mengantar gigil. Ada pula yang hanya mengisi teriakan latar, tetapi justru menjadi gema paling jujur tentang keresahan yang selama ini disembunyikan.
Jangan berharap menemukan track yang ramah, dengan kata lain berfungsi untuk koor. Mereka tidak membangun setiap lagunya untuk itu. Tidak menatah aransemen dan lirik sesuai algoritma. Album yang sulit dimengerti, sama sulitnya dengan memahami keras kepala setiap personel: yang menolak mati meski berkali-kali dihantam kenyataan bahwa hidup sering memperlakukan musik sebagai sekadar angka dan transaksi.
Tiap lagu seperti episode kecil dari perjalanan panjang dan pertanyaan, tentang tanah yang menyempit, pertunjukan kecil di sebuah pameran besar, cekcok yang diam-diam di antara jeda latihan. Mereka menulis tentang kegagalan, tentang impian yang terluka namun tidak mati, tentang cinta yang dibiarkan tumbuh di antara pedal distorsi dan kepulan asap yang menari di udara.
Album ini cenderung berfungsi sebagai pengingat: bahwa perjalanan hanyalah tentang menemukan, ditinggalkan, dan dalam setiap keputusan yang diambil kita tidak pernah berutang pada siapa-siapa. Bahwa mimpi tidak pernah lahir dari satu kepala saja, melainkan dari banyak tangan yang menahan ketika kaki nyaris menyerah.
Yang bisa kita ingat dari album ini bukanlah lagu—yang berpotensi populer— melainkan keberanian mereka untuk menatap hari esok tanpa jaminan apa pun sekaligus keyakinan sederhana bahwa bersama teman-teman lama, Marsmolys bisa terus bertahan hidup, sekeras suara ampli yang tak ingin dikecilkan.





Leave a Reply